Mengamati perkembangan Bali khususnya dalam bidang pariwisata sangat menarik, seperti menyelam di laut dimana semakin dalam kita menyelam dan melihat maka semakin banyak yang kita ketahui.
Catatan terpuruknya Bali pasca bom Bali sampai ketenaran Bali menjadi sebuah fenomena yang unik yang terjadi di pulau Seribu Pura ini.
Saya sering mengatakan kepada teman expatiate dan teman yang ada di Bali, bahwa dari kebiasaan berbusana adat Bali sampai “pelinggih dugul” yang ada di sawah merupakan daya tarik Bali . Pengamatan yang lebih mendalam membawa kita kepada fenomena dimana ada satu kesan recovery Bali yang jarang disebut. Mereka adalah para expatriat yang ada di Bali.
Motivasi mereka datang ke Bali adalah sangat beragam seperti Mr. Morinnos seorang pemilik café, ron parson seorang aktifis sosial, mark cherry seorang penulis, Vincent dan matt seorang pebisnis dan banyak lagi yang lainnya menyatakan kepada saya bahwa kecenderungan mereka terhadap Bali tertarik baik dari cara hidup dan yang paling menarik adalah hospitality/ keramahan yang Bali yang tidak dimiliki wisata lain.
Beberapa pengusaha Bali juga amat flexible mengikuti trend pasar yang ada dan selalu memberikan kreasi baru dan membawa trend besar di dunia (trend setter) khususnya dari segi handcraft sampai architecture.
Tentunya peran expatriat dalam hal ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan positif Bali. Catatan recovery Bali pasca bom juga tidak lepas dari peran mereka yaitu dimana mereka mempunyai investasi sosial ekonomi dan lain-lain. Dukungan expatriat demi pemberdayaan masyarkat, intelektual dan investasi financial yang mereka berikan.
Perlu kiranya melihat fenomena ini menjadi suatu hal yang saling terkait antara satu dengan yang lain dimana para expatriate sebagai penyumbang devisa secara langsung. Dan secara langsung melakukan investasi social dengan cara mendidik masyarkat menjadi lebih professional dengan cara membuka usaha secara individu yang berskala kecil, menengah dan skala besar.
Contoh kongkrit dari pada campur tangan expatriate ada dalam beberapa jalur investasi pariwisata antara lain (jasa, restoran dan investasi property).
Dari beberapa sector ini maka Bali telah mengadopsi “Standarisasi internasional” secara tidak langsung. Hal ini terlihat dari peningkatan SDM, trend bangunan, IT dan beberapa sector lain.
Sebagai pemerhati pariwisata, investor pariwisata dan pengamat pariwisata maka hubungan expatriate dengan kita dalam bidang pariwisata perlu dibina dengan baik, tentunya dengan memperhatikan pula efek positif dan negative yang ditimbulkan. Minimum mengetahui dalil investasi private villa yang memberdayakan 4-5 karyawan yang ekuivalen dengan penghasilan 50 are tanah sawah produktif tanpa menghilangkan sawah sebagai salah satu daya tarik Bali dan penunjang Bali dari segi pertanian.
Oleh I Made Ariawan SST.par.MBA
PELAKU DAN PENGAMAT PARIWISATA