Artikel Indonesia Rotating Header Image

Mari sama-sama kita jaga Bali bebas Rabies !

Dalam pewayangan, rombongan Pandawa yang mangkat dikuntit seekor
anjing ke swargaloka. Guguk milik Yudistira\sulung dari Pandawa\itu
bahkan bisa ikut masuk swargaloka karena kesetiaan dan kejujurannya.
Sekuen dramatis Yudistira dan keempat adiknya itu sering jadi kutipan
tentang kesucian dan swargaloka.

Namun, di Lapangan Niti Mandala, Renon, Denpasar, dua bulan terakhir
ini pemandangan berubah. Anjing peliharaan jarang terlihat dibawa
tuannya lagi berkeliling salah satu taman di jantung Kota Denpasar,
Bali, itu. Mewabahnya rabies di sebagian wilayah Pulau Dewata telah
membuat orang serba salah, juga khawatir, bahkan takut terhadap
anjing. hTidak enak aja membawa anjing jalan-jalan seperti waktu
sebelumnya. Bukan takut, karena anjing kami telah divaksin antirabies.
Tapi, kami merasa kekhawatiran memang menghinggapi warga pada umumnya
terhadap penyakit itu, kata Ketut Sadewa, warga Sanur.

Pemerintah menyatakan Pulau Bali berstatus wabah rabies per 1 Desember
2008. Pernyataan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor
1637 Tahun 2008 yang ditandatangani Menteri Pertanian Anton Apriyantono.

Yayasan Yudisthira Swarga, sebuah lembaga swadaya yang bergerak dalam
pengendalian populasi anjing di Bali, mencatat, populasi anjing di
Bali saat ini sekitar 540.000 ekor atau 96 ekor per kilometer persegi.
Sedangkan menurut estimasi Dinas Peternakan Bali, populasinya di Bali
360.000-400.000 ekor.

Wabah rabies ini yang pertama terjadi di Bali dalam sejarah. Status
wabah itu sudah diumumkan di sejumlah website perjalanan wisata dunia.
Namun, sejauh ini jumlah kunjungan wisatawan mancanegara masih normal.

Beragam cara telah dilakukan untuk membebaskan Bali dari rabies.
Nyatanya, penyakit itu masih menghantui warga. Kekhawatiran menyeruak,
lebih-lebih setelah penyakit itu diketahui semakin meluas dari
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, yang berada di kaki Pulau
Bali ke arah utara, Kota Denpasar.

Ada enam orang meninggal dunia dengan gejala klinis rabies dan punya
riwayat digigit anjing. Dinas Kesehatan Provinsi Bali sejauh ini baru
mengonfirmasi satu orang saja yang positif rabies, yakni seorang warga
asal Desa Ungasan, Kuta Selatan. Dua orang terakhir yang meninggal di
RSUP Sanglah masih ditunggu hasil konfirmasinya dari Laboratorium
Balai Penelitian Veteriner di Bogor, sementara sisanya negatif rabies.

Hingga akhir Januari lalu, jumlah kasus gigitan dan permintaan vaksin
antirabies (VAR) mendekati 500 orang.

Selain penyadaran publik, vaksinasi dengan VAR dan eliminasi terhadap
anjing liar menjadi pilihan Pemprov Bali. Namun, di lapangan,
vaksinasi untuk hewan penular rabies (HPR) belum optimal. Vaksinasi
baru dilakukan terhadap 36.191 ekor HPR dari total 70.000 VAR yang
didatangkan. Artinya, baru 34,2 persen di Badung dan 26,26 persen di
Denpasar dari total populasi HPR di dua daerah itu. Di samping itu,
eliminasi anjing liar di Bali baru mencapai 818 ekor.

Upaya vaksinasi terhadap HPR, seperti anjing, kucing, dan
kera\terutama anjing di Bali\ sangat berat karena populasi anjing yang
tinggi dan padat.

Ancaman rabies di Bali sangat spesifik karena kekhasan sosiokultural
dan biogeografi Bali. Sebagai daerah padat penduduk, Bali juga padat
hewan pembawa rabies, seperti anjing, kucing, monyet, bahkan
kelelawar. Beberapa koloni monyet dan kelelawar bahkan menjadi obyek
wisata, seperti di Hutan Sangeh, Kedaton, dan Pura Luhur Uluwatu.

Sejauh ini Pemprov Bali belum menyimpulkan asal-usul masuknya rabies
ke Bali, khususnya dilihat dari asal daerah yang masih belum bebas
rabies, yakni Jawa, terutama Jawa Barat, Sulawesi, Flores, atau
Kalimantan. Namun, seperti diterangkan mantan penyidik di Balai
Penyidikan Penyakit Hewan Wilayah VI Denpasar, drh Soeharsono, PhD,
hanya diperlukan seekor anjing dalam masa inkubasi untuk menularkan
rabies di Bali. Populasi anjing yang tinggi merupakan media efektif
sebagai penyebar rabies.

Ia menduga, dilihat dari tempat awal ditemukannya kasus rabies di Kuta
Selatan, diduga kuat virus rabies asal Flores/Sulawesi yang menyebar
di Bali.

Salah satu optimalisasi vaksinasi adalah dari daerah terpapar (Badung
dan Denpasar) ke daerah terancam yang tersebar di tujuh kabupaten lain
di Bali.

Sekarang keputusan ada di tangan gubernur dan pemerintah pusat. Soal
sumber daya manusia, kami tidak kekurangan. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana siap menerjunkan 1.000 orang per hari untuk
membantu vaksinasi, kata Dr drh Gusti Ngurah Mahardika, peneliti dari
FKH Unud, dalam diskusi ilmiah Percepatan Penanggulangan Rabies yang
digagas FKH Unud, awal Februari lalu.

Kepala Dinas Peternakan Bali Ida Bagus Alit menjelaskan, vaksinasi
antirabies di daerah terancam atau bebas rabies dianggap kurang perlu.

Sebaliknya, pemutusan rantai penularan rabies dengan cara eliminasi
pada anjing liar yang dianggap pembawa virus rabies, secara optimal
sudah cukup. Terlebih, biaya vaksinasi sangat besar. Harga VAR per
anjing rata-rata Rp 50.000. Itu berarti dibutuhkan minimal Rp 16,5
miliar per tahun. Itu belum termasuk honor bagi 170 petugas.

Kini warga menunggu, apakah Bali mampu memenangi hperangh melawan
rabies itu. Mereka rindu membawa anjing peliharaan berkeliling taman
kota ketika hari libur tiba.
Oleh BENNY DWI KOESTANTO